Showing posts with label PURWAKARTA. Show all posts
Showing posts with label PURWAKARTA. Show all posts

BELI PULSA ALL OPERATOR, TOKEN, GAME VOUCHER BAYAR VIA PERFECTMONEY OKPAY BCA

BELI PULSA ALL OPERATOR, TOKEN, GAME VOUCHER DISINI!!! 
BAYAR VIA PERFECTMONEY OKPAY BCA

PM U4865750


OK PAY OK319612901


BCA 


PESAN/HARGA SMS/YM DULU

HUB. 087879688213


YM 


WISATA PLERED DARI KERAMIK HINGGA DANAU CIRATA


Laju kendaraan yang melintas di ruas jalan Plered, Kabupaten Purwakarta tersendat. Lubang-lubang menganga di sepanjang ruas jalan, memaksa pengemudi ekstra hati-hati dan harus “bermanuver” di jalan yang rusak parah itu.
Namun kekesalan para pengendara itu, terobati saat melihat pemandangan di sebelah kiri-kanan jalan. Keramik asli Plered yang yang dipajang di toko-toko besar hingga kios kecil berukuran 4×4 meter sangat menawan mata. Beberapa pengendara bahkan memutuskan untuk berhenti sejenak demi keramik Plered nan memesona itu.
Jalan menuju Kecamatan Plered, sekira 15 kilometer dari pusat kota Purwakarta beberapa bulan terakhir kian hancur. Itu membuat pengunjug ke sentra keramik di Plered menurun. Pedagang keramik, A. Rifa`i (52) mengaku dalam beberapa bulan terakhir penjualan keramik Plered agak menurun.
“Dalam sepekan, hanya ada sekira tiga hingga empat pembeli saja yang datang,” kata dia.
Tokonya yang menjajakan aneka jenis keramik, seperti berbentuk celengan, perkakas dapur, asbak rokok, vas bunga, mainan anak-anak, dan aksesori untuk rumah, tidak saban hari disinggahi pembeli.
Guci mirip buatan Cina juga banyak dijumpai di jajaran toko tersebut. Harga produk keramik itu berkisar antara Rp5.000 hingga Rp300.000. (ANT-M. Ali Khumaini).
Tahun lalu, kata Rifa`i, setiap hari selalu saja ada pembeli, bahkan beberapa turis asing seperti dari Jepang, Thailand, dan Italia sengaja datang ke Plered hanya untuk memborong keramik.
Namun semenjak jalan rusak, pelancong dari Purwakarta maupun dari luar Purwakarta kian menurun. Meski demikian, Rifa`i dan sejumlah pedagang keramik di Plered tetap bertahan.
“Membuat keramik itu satu-satunya keahlian saya. Jadi, saya wajib mempertahankan,” katanya.
Plered sudah menjadi sentra produksi keramik sejak tahun 1904. Pengusaha keramik Plered jumlahnya lebih dari seratusan orang.
Pada awalnya, masyarakat sekitar membuat keramik dari tanah liat merah hanya untuk memenuhi perkakas rumah tangga masing-masing. Tapi, dalam perkembangannya, kerajinan tersebut mampu menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat sekitar.
Keahlian membuat keramik diwariskan secara turun temurun kepada generasi berikutnya tanpa melalui jenjang pendidikan formal.
Untuk membuat keramik yang berkualitas tinggipun, para pengrajin hanya berlandaskan pengalaman.
Keramik Plered berbahan baku tanah liat yang biasa diambil dari areal persawahan di sekitar Desa Citeko, Kecamatan Plered, Purwakarta, yang sudah tidak terpakai atau tanah areal persawahan yang sengaja dijual oleh pemilik sawah. Biasanya, tanah liat itu dijual seharga Rp30 ribu per meter.
Setelah melewati sentra keramik, pelancong harus kembali fokus ke jalan yang rusak dan berdebu, serta kemacetan parah di pertigaan Plered.

Berbagai jenis kendaraan, mulai dari kendaraan pribadi, angkot, truk besar, tampak melintasi jalan selebar tiga meter tersebut. Sementara angkot, ojek motor, dan delman “ngetem” di sekitar pertigaan pasar Plered.
Selain keramik, Plered juga masyhr dengan genteng. Ribuan genteng dijemur di hampir setiap titik sisi jalan, sekitar Desa Citeko.
Genteng-genteng yang masih basah itu memang sengaja dijemur agar cepat kering.
Genteng-genteng yang biasa diproduksi oleh puluhan pengusaha beraneka ragam, diantaranya jenis genteng kodok, palentang biasa, palentang plat, morando, dan genteng jenis turbo.
Saat ini, para pengusaha genteng di sekitar Kecamatan Plered merasa senang, karena pasca kenaikan harga BBM ini, pemesan genteng meningkat. Selain itu, sesuai dengan tren penjualannya, peningkatan pemesan genteng itu juga disebabkan faktor menjelang pergantian presiden.
“Kami sudah memproduksi genteng sejak zaman Presiden Soeharto. Tidak tahu sebabnya secara pasti, setiap kali jeda waktu satu tahun sebelum pergantian presiden, pemesan genteng selalu mengalami peningkatan,” katanya.
Danau Cirata
Selain keramik, Plered juga masyhur dengan Danau Cirata. Jalan menuju kawasan ini relatif mulus meski tidak begitu lebar dan berkelok-kelok.
Jalan berkelok itu memutari bebukitan dengan hamparan hijaunya areal persawahan dan pepohonan dari ketinggian.
Memasuki Desa Cirata, tampak sebuah jembatan panjang yang di sebelah kanannya terdapat Danau Cirata dan sebelah kirinya terdapat pemandangan pegunungan yang indah.
Danau seluas sekira 62 km2 dan dengan ketinggian maksimum 220 meter di atas permukaan laut yang dikeliling bukit itu berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menghasilkan listrik 100 MW dan mampu membangkitkan energi listrik rata-rata sebesar 1.428 juta kilowatt/jam per tahun.
Di Danau Cirata ini adalah delapan buah turbin dan gedung sentral/Power House empat lantai yang berada di terowongan bawah tanah atau di dalam Bukit Cirata.
Di sekitar Danau Cirata, mata pengunjung dimanjakan dengan pemandangan elok. Pengunjung juga bisa menikmati makanan khas daerah setempat. Rata-rata, para pedagang di sekitar Danau Cirata itu menjajakan nasi liwet dengan lauk pauk ikan bakar dan sate maranggi khas Plered.
Memandangi danau dan keindahan alam memang terasa mengasyikkan sambil memakan nasi liwet dengan sate maranggi dan ikan bakar.

INGAT KERAMIK, INGAT PLERED PURWAKARTA


Ketika orang menyebut kerajinan keramik, ingatan kita akan langsung ke sebuah kecamatan yang berada di Purwakarta. Plered. Ya, Plered memang terkenal sebagai sentra penghasil keramik terkenal di Jawa Barat bahkan Indonesia.
Sebagai sentra kerajinan gerabah, Plered telah menorehkan karyanya sejak zaman neolithikum. Wilayah Plered, Cirata, Citalang, dan Gandasoli diketahui merupakan kota atau desa yang tergolong tua di Purwakarta.
Plered atau Palered?
Plered bukanlah sebuah kota kecamatan besar, luasnya hanya 97,172 hektar saja. Kata Plered berasal dari Palered, menurut salah satu versi yang menyebutkan asal muasal nama Plered. Palered merupakan pedati-pedati kecil yang ditarik oleh kerbau untuk mengangkut kopi pada masa tanam paksa dulu.
Palered tersebut terbuat dari papan kayu (roda dan pedati) sehingga tangguh, bisa berjalan walaupun di jalan berlumpur. Kopi ini diangkut menuju Cikawao Bandung/Jatiluhur yang selanjutnya dimuat ke atas rakit menuju Tanjung Priok dengan menyusuri Sungai Citarum.
Perkembangan Gerabah Plered
Kerajinan keramik Plered sudah muncul sejak zaman kolonial dulu yang ditandai dengan berdirinya tempat pembuatan genting dan batu bata kira-kira pada 1795. Dengan berdirinya lio-lio ini maka diawalilah proses transformasi penggantian properti rumah-rumah penduduk.
Pada awalnya, rumah-rumah penduduk di sekitar Plered dan Kabupaten Karawang hanya beratapkan ijuk, sirap, dan daun kelapa. Jenis-jenis atap rumah tersebut kemudian mulai digantikan dengan genting-genting. Sejak saat itulah, masyarakat Plered mulai bergerak di bidang gerabah dan menjadi home industry. Pada 1935, Hendrik De Boa seorang pengusaha Belanda mulai membuka pabrik glasir yang terletak di Warung Kondang, Plered.
Penjajahan Jepang di Indonesia membawa pengaruh besar pada kerajinan gerabah di Plered karena sebagian penduduknya diharuskan untuk bekerja paksa (Romusha). Lokasinya terutama di sekitar Gunung Cupu dan Ciganea.
Produksi gerabah Plered berhenti total pada masa kemerdekaan karena seluruh penduduknya ikut terlibat dalam perjuangan. Bung Hatta menjadi orang yang berjasa dalam menghidupkan kembali industri gerabah di Plered dengan membuka Induk Keramik yang gedungnya terletak di Gonggo pada 1950. Sejak saat itu, industri keramik Plered kembali bergairah dan mencapai kejayaannya dengan didatangkannya mesin-mesin dari Jerman.
Keramik yang dihasilkan di Plered bukanlah produk jago kandang saja dalam arti hanya terkenal di daerahnya saja. Produk-produk keramik Plered sudah melanglang buana dan diekspor ke berbagai negara di antaranya Jepang, Taiwan, Korea, Australia, New Zealand, Kanada, dan Saudi Arabia.
Plered Bukan Hanya Penghasil Keramik
Selain terkenal dengan industri keramiknya, Plered juga terkenal dengan gentingnya. Sama halnya dengan Majalengka terkenal dengan genting Jatiwanginya. Ribuan genting dijemur setiap harinya di bahu-bahu jalan. Citeko merupakan salah satu daerah yang aktif memproduksi genting ini.
Genting-genting yang masih basah dan tercetak tersebut sengaja dijemur di bawah terik matahari. Genting-genting ini memiliki aneka ragam jenis di antaranya genting kodok, palentang biasa, palentang plat, morando, dan genting jenis turbo.
Nah, apabila suatu waktu Anda bepergian menuju arah Jakarta dengan menggunakan jalur Purwakarta, singgahlah di Plered, sentra kerajinan keramik, untuk membeli atau hanya sekadar menikmati berbagai jenis keramik yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil pengrajin keramik Plered.
Jadi, apabila ingat Keramik, ingatlah Plered Purwakarta.

KH. Tubagus Ahmad Bakri Bin Tubagus Sayidah Atau MAMA SEMPUR PLERED PURWAKARTA


KH. Tubagus Ahmad Bakri atau Mama Sempur adalah seorang ulama yang sangat berpengaruh di daerah Purwakarta. Bahkan hampir bisa dipastikan bahwa karena jasa beliaulah sejumlah pesantren berdiri di daerah tersebut. Tidak hanya itu, di kalangan masyarakat Jawa. Barat nama Ahmad Bakri sangat terkenal sebagai guru tarekat tertinggi dalam ajaran tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah.
Ayahnya, Tubagus Sayidah, adalah pemimpin Pesantren Salafiyah Sempur. Di samping sebagai ulama, ayahnya juga dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan pemerintah kolonial. Layaknya keturunan kiai, pendidikan awal KH. Tubagus Ahmad Bakri diperolehnya dari ayahnya. Melalui ayahnya, ia mengenal cara membaca al-Qur’an dan ilmu dasar keislaman.
Setelah merasa cukup mendidiknya, ayahnya kemudian mengirim Ahmad Bakri ke Mekah. Pada waktu itu, tradisi belajar ke Timur Tengah sangat lazim di kalangan kiai tradisional. Di Mekah ia belajar tafsir kepada Sayyid Ahmad Dahlan, salah seorang ulama besar yang mengajarkan Islam Madzhab Syafi’i. Di sana, ia juga belajar pada ulama Nusantara yang menetap di Mekah, yaitu Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz Termas. Khususnya kepada Syekh Nawawi Banten, Mama Sempur belajar fikih.
Demikanlah, KH Bakri mendalami pengetahuan agamanya dengan berguru kepada dua ulama Nusantara yang begitu terkenal. Dalam keyakinan pelajar jawa bahwa mereka akan dianggap menyempurnakan pelajaran apabila mendapat bimbingan terakhir dari ulama kenamaan kelahiran Jawa (Zamahsyari, 1981).
Setelah pulang ke tanah air, Kiai Ahmad Bakri mendirikan sebuah pesantren di Darangdang, Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Pesantren ini dinilai sebagai pesantren tertua di daerah tersebut. Demikianlah untuk selanjutnya ia mengelola pondok pesantren dan menjadi guru penyebar Tarekat Naqsabandiyah di daerah tersebut.
Pemikirannya
Untuk mengungkap pemikirannya kita dapat melacak sejumlah catatan kecil yang ditulisnya, ceramah-ceramah serta kandungan kitab yang ditulisnya.
Dalam Cempaka Dilaga, misalnya,  KH Ahmad Bakri menjelaskan beberapa prinsip hidup yang harus dilakoni oleh umat Islam. Yaitu keharusan berbuat baik terhadap tetangga agar kita dapat hidup di dunia dengan aman, terutama aman dalam ibadah dan mengabdi kepada Allah.
Di bagian lain kitab ini, ia berpendapat bahwa seorang muslim hendaknya patuh dan menaati pemerintah — bahkan terhadap pemerintah yang lalim sekalipun selama pemerintah tidak memerintahkan rakyatnya untuk menyalahi perintah Allah atau melarang untuk berbakti kepada Allah SWT.
Selain itu, Ahmad Bakri menjelaskan bahwa dalam mengambil seorang muslim hendaknya pada prinsip-prinsip Ushul Fikih. Misalnya ketika seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang tidak dapat dihindari, maka menurutnya orang tersebut hendaknya memilih perbuatan yang paling sedikit mudaratnyd (akhaf al-dlaruryn). Ia juga menganjurkan agar seseorang mendahulukan untuk menolak mafsadat daripada melakukan pekerjaan yang mendatangkan manfaat. Menurutnya, menghindari mafsadah lebih utama ketimbang mencari manfaat.
KH Ahmad Bakri juga memperbincangkan perilaku manusia yang sangat mendasar, yaitu makan. Menurutnya, makan merupakan kewajiban, dan oleh karenanya makan termasuk bagian dari ajaran agama Islam. Karena makan merupakan salah sendi yang dapat menguatkan manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. dan melakukan perintah-perintah-Nya.
Lebih lanjut KH Ahmad Bakri menjelaskan bahwa seseorang sejatinya mengetahui etika makan. Dengan demikian, seseorang dapat mencapai manfaat makan sehingga makan dapat dinilai sebagai ibadah.
Ahmad Bakri termasuk ulama yang tidak sepakat dengan ajaran Wahabi yang berkembang di Mekah. Bahkan ia menilai bahwa Muhammad Abdul Wahab, pendiri Wahabi, adalah musuh Rasulullah Saw. Ketidaksepakatan terhadap ajaran tersebut dituangkannya dalarn sebuah bukunya yang berjudul Idhah al-Kardtiniyah fi Ma Yata’allaqu bi Dhalat al-Wahabiyah.
Selain itu, Ahmad Bakri juga menyinggung persoalan pendidikan. Sebagaimana di ketahui, ia hidup pada masa peperangan dan pada saat itu banyak orang yang ikut berperang melawan penjajah. Disinilah ia menangkap realitas di mana pendidikan begitu terabaikan. Menyikapi kenyataan ini, ia menyatakan perlunya sebagian orang untuk tetap memperhatikan pendidikan dan tidak ikut berperang. Untuk mengukuhkan pendapatnya, ia mengutip ayat al-Qur’an, khususnya surat At-Taubah ayat 22.
Meskipun Ahmad Bakri tidak terlibat langsung dalam kancah politik, namun pandangangan-pandangan dan pilihan politiknya diikuti oleh masyarakat setempat. Ia bukanlah tipe propagandis yang kerap memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Alih-alih memaksakan keinginannya, malah ia memberikan kebebasan kepada para santrinya untuk menentukan sikap politiknya.
Demikianlah gambaran singkat tentang sosok yang relatif moderat dalam menyikapi persoalan. Hanyalah sosok yang matang secara intelektual dan emosional-lah yang mampu menampilkan sikap moderat. Dan KH. Tubagus Ahmad Bakirlah yang memiliki kematangan intelektual dan emosional sekaligus. Beliau meninggal pada malam Senin, 1 Desember 1975 M bertepatan dengan tanggal 27 Dzu al-Qa’dah 1395 H.

Purwakarta Menjadi Daerah Terbaik Investasi


foto 
Kabupaten Purwakarta terpilih menjadi daerah terbaik dalam soal pembinaan investasi pemodal asing dan dalam negeri tahun 2013 di wilayah Provinsi Jawa Barat. "Saat ini, nilai investasi asing dan dalam negeri yang tertanam di bumi Purwakarta tercatat Rp 30 triliun lebih," kata  Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP) Kabupaten Purwakarta Iyus Permana saat dihubungi Tempo,  Jumat pagi, 9 November 2012. 


Iyus mengatakan investasi yang masuk selama periode Januari-Oktober 2012 tercatat senilai Rp 3,6 triliun. "Selama periode Januari-Oktober 2012 sudah ada 40 perusahaan asing dan dalam negeri yang melakukan pengembangan dan menanamkan modal baru yang sudah mengantongi izin prinsip," kata  Iyus.  Perusahaan itu akan menyerap tenaga kerja minimal 6.000 orang.

Menurut Iyus, ada sejumlah kriteria dasar sehingga daerahnya bisa menjadi yang terbaik. "Tetapi, yang paling menentukan adalah menyangkut laporan kegiatan penanaman modal yang dilakukan setiap enam bulan sekali," ujar Iyus. 

Dari 134 perusahaan asing dan 34 perusahaan dalam negeri, mereka secara teratur selalu menyampaikan laporan berkala. Sehingga kondisi dan arus investasi di Purwakarta bisa terpantau dengan baik.

PT HINO Indonesia, pabrikan kendaraan roda empat asal Jepang yang juga memiliki pabrik di kawasan industri Kota Bukit Indah (KBI), pada saat yang sama juga terpilih menjadi perusahaan terbaik dalam hal laporan kegiatan penanaman modalnya.

"PT HINO terpilih menjadi yang terbaik karena mampu melakukan program CSR (Corporate Social Responsibility), pengelolaan lingkungan hidup, pengupahan buruh yang baik, dan peduli terhadap bidang pendidikan," kata  Iyus.

Sekretaris DPC Apindo Kabupaten Purwakarta Darius Krisdanu Purwana mengapresiasi keberhasilan Purwakarta menjadi daerah terbaik dalam kegiatan investasi. Sejauh ini, sistem pembinaan dan pelayanan BPMPTSP dengan para pengusaha bersinergi dengan baik. "Itu harus terus dipertahankan agar iklim investasi terus mengalami peningkatan," ujar Darius.

Asisten Bidang Pembangunan Provinsi Jawa Barat, Wawan, mengatakan posisi dan kedudukan geografis Jawa Barat yang strategis telah membuat investor asing dan dalam negeri menjadikan daerah itu sebagai pelabuhan investasi. 
"Kini, 80 persen jenis investasi asing dan dalam negeri ada di Jawa Barat semuanya," 

Sentra Keramik Plered Purwakarta


Jika ke Bandung atau sebaliknya ke Jakarta melewati Cikampek, mampirlah ke Plered, Purwakarta, Jawa Barat Di sini banyak dijumpai keramik yang unik dan pantas untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Bentuknya beraneka ragam dan relatif murah.
 
Sentra industri keramik Plered berada di wilayah selatan Kabupaten Purwakarta. Plered merupakan satu kecamatan yang memiliki luas wilayah 36,79 km persegi dengan jumlah penduduk 54,337 jiwa. Sentra industri kecil ini terletak di Desa Anjun, Citeko, dan Desa Pamoyanan. Plered sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil keramik. Dari tempat ini, berbagai bentuk dan ukuran keramik dibuat. Ada yang kecil, sedang hingga besar dengan berbagai aneka desain.
 
Pembuatan keramik Plered memang sudah berlangsung turun temurun dan diperkirakan dimulai sejak tahun 1904. Awalnya, masyarakat sekitar membuat keramik dari tanah liat merah dan termasuk gerabah ini untuk memenuhi perkakas rumah tangga. Tapi, pada perkembangannya kerajinan tersebut mampu menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat sekitar.
 
Di sepanjang jalan tampak berjejer pajangan keramik yang menarik perhatian. Berbagai bentuk gerabah, mulai dari perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak bisa menjadi suvenir yang menarik. Bila berkunjung langsung, selain bisa menyaksikan langsung pembuatan keramik, Anda juga bisa mendapatkan harga lebih murah. Ada yang dijual mulai dari Rp 5.000,- sampai ratusan ribu rupiah.

Lokasi:  Desa Anjun, Citeko dan Pamoyanan, Kecamatan Plered
Koordinat : 6° 37' 20" S, 107° 24' 14" E
Telepon:
Email:
Internet:
Arah:
Fasilitas:
Jam Buka:
Tutup:
Tiket:
Informasi Lebih Lanjut:

Waduk Jatiluhur


Pemberhentian terakhir kami rencanakan di Waduk Jatiluhur. Maka dari itu, kami harus kembali ke Purwakarta segera. Kami meninggalkan Wanayasa sekitar pukul 15.00 dengan menggunakan angkot, karena ELF yang kami tunggu tidak muncul batang hidungnya. Sedangkan angkot udah lebih 3 kali melewati kami. Akhirnya angkot itulah yang kami pilih untuk membawa kami ke Pasar Rebo. Tarifnya sama, Rp. 6.000, tapi yang membuat kami takjub, si sopir angkotnya hafal semua penumpang yang naik dan turun di mana mereka. Semacam langganan, padahal angkot Wanayasa ini tidak sedikit jumlahnya. Buktinya selama menunggu ELF kami dilewati tiga kali. Sangat ramah dan sangat unik, bapak ini naik dimana turun dimana, ibu ini naik dimana turun dimana, neng ini mau kemana semua dapat dihafal sama bapak tukang angkot...tepuk tangan kami pak atas keramahan dan cara bapak membawa angkot.

Angkot berhenti di Pasar Rebo sekitar pukul 15.30 dan kami disarankan si bapak untuk naik jalur 02 ke arah bunder, baru dari situ naik 09 ke Jatiluhur. Apakah bunder itu? kamipun tidak tahu, kami bilang ke tukang angkot yang waktu itu masih Aa-Aa (ga tau lagi sekarang, udah menjadi bapak-bapak kali...^^) mau ke Jatiluhur, dan dengan sendirinya Aa itu menghentikan kami pas di depan angkot 09 yang siap ke Jatiluhur. Dari 02 ke Bunder tarifnya Rp. 2.500 dan dari bunder ke Jatiluhur menggunakan 09, tarifnya Rp. 5.000.
Lumayan jauh juga dari bunder ke Jatiluhur, sekitar 30 menitan. Dan dengan harga segitu aga kurang wajar juga sebenarnya, tapi yasudahlah, kami terima saja dengan pasrah. Menjelang masuk ke wilayah Jatiluhur suasana seperti di Wanayasa, sejuk dan penuh pinus setelah berputar-putar, diturunkannya kami di depan Waterboom. Waow...ini waduk apa pantai...luas betul waduknya. Waktu itu sudah pukul 16.00 sepi, hanya ada kami, beberapa pengunjung, bapak-bapak yang menawarkan kapal wisata ke pulau ditengah-tengah sana yang tidak nampak karena kabut dan segerombolan orang yang awalnya kami pikir tentara atau kelompok yang sedang out bound (siapakah mereka? Nanti kami jelaskan).

Kami sedang bernafsu untuk menjelaskan tentang Jatiluhur ini. Kami kutip informasi ini dari blog hasyimibrahim.wordpress.com. di blog tersebut banyak menjelaskan mengenai data teknis bendungan Jatiluhur, yang kami belum melihatnya. Yang kami lihat adalah danaunya, waduknya, bukan bendungannya. Jika Situ Buleud memiliki luas 4 ha, Situ Wanayasa memiliki luas 9 ha, waduk Jatiluhur yang merupakan danau ini memiliki luas 8.300 ha (se per berapanya itu.....!!!). seperti lautan sudah memang, luas banget, mata kami tidak sampai untuk melihat ujungnya (karena kabut juga ^^). Bendungan ini dinamakan Waduk Ir. H. Djuanda yang dibangun sejak tahun 1957 oleh Kontraktor Perancis dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 milyar m3/ tahun, dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia. Karena terletak di Kecamatan Jatiluhur, waduk ini juga biasanya dikenal dengan waduk Jatiluhur, persisnya terletak kurang lebih 9 km dari pusat kota Purwakarta. Selain menjadi waduk serbaguna pertama di Indonesia, bendungan ini juga yang terbesar di Indonesia.
Yang membuat Jatiluhur sebagai karya besar bangsa Indonesia adalah karena bendungan ini dibangun saat Indonesia baru merdeka dan belum bisa dikatakan mampu dalam segi ekonomi, namun keberadaannya sangat diharapkan, termasuk menyediakan perbekalan air untuk kapal-kapal dagang asing yang bersandar di Tanjung Priok saat itu (??? Jauh bener...). bangunan ini juga mencerminkan rasa nasionalisme tinggi para penggagasnya. Kenapa dikatakan memiliki nasionalisme tinggi, bendungan ini memiliki pompa hidrolik yang terkenal dengan paten atas nama Prof. Ir. Sediyatmo untuk saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah, pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya berjumlah 8 buah, dan pembangunan pompa-pompa listrik untuk saluran Tarum Timur agar lebih efisien dan efektif dibuat miring 45 derajat. Jadilah angka keramat 17-8-45, angka kemerdekaan bangsa Indonesia...luarrrr biasaaaa...(d^^b).

Apakah harus di Jatiluhur bendungan itu di buat? Pertanyaan ini bukan pertanyaan kami, tapi pertanyaan umum yang ada di blog-blog tentang Jatiluhur, kamipun ikutan bertanya jadinya. Sebenarnya ide pembangunan waduk ini ada sejak jaman Belanda. Waktu itu Prof. Ir. WJ. Van Blommestein, selaku Kepala Perencanaan Jawatan Pengairan Belanda sudah membuat rencana pembangunan tiga waduk besar di sepanjang aliran sungai Citarum, yaitu Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Namun rencana tersebut tidak terealisasi. Pada tahun 1950, Ir. Agus Prawiranata selaku Kepala Jawatan Irigasi memikirkan pengembangan jaringan irigasi untuk mengantisipasi kecukupan beras dalam negeri, dan ide itu menjadi bahan tertawaan karena Indonesia tidak memiliki cukup uang untuk itu. Ide tersebut dibicarakan dengan Ir. Sediyatmo, selaku Kepala Direksi Konstruksi Badan Pembangkit Listrik Negara. Kemudian Ir. Sediyatmo menugaskan Ir. PK. Haryasudirja (sekarang Prof. Dr. Ir. PK. Haryasudirja) untuk merancang bendungan jatiluhur ini.

Jatiluhur dipilih karena memiliki banyak kelebihan, baik dari segi kemanan, keperluan listrik dan keperluan air lainnya. Dikatakan aman, karena pada saat pengukuran di daerah Kiara Condong, Bandung untuk rencana pembangunan bendungan di daerah paling hulu, yaitu Saguling, banyak tenaga pengukur yang tewas diserang oleh gerombolan orang tidak dikenal, begitu juga pengukuran di daerah yang lebih hilir, Cirata, hal yang sama dialami para petugas lapangan. Akhirnya Jatiluhur dipilih karena relatif aman, dan dapat dimanfaatkan untuk memberi suplai air pada bendungan Walahar yang sudah dibangun oleh Belanda untuk mengairi sawah seluas 80 ribu ha.

Haryasudirja membuat spesifikasi bendungan Jatiluhur meniru gaya bendungan terbesar di dunia, yaitu bendungan Aswan di Mesir dengan menggunakan konsultan dari Perancis yang sudah berpengalaman dalam membangun bendungan besar. Selain untuk pembangkit listrik dibangunnya Jatiluhur untuk mengairi irigasi persawahan daerah Jawa Barat seluas 240 ribu hektar. Namun kendala yang dihadapi ketika itu, harus meninggikan kembali air kucuran dari bendungan Jatiluhur bila digunakan untuk keperluan lain selain pembangkit listrik. Pasalnya Ir. P.C. Haryasudilja yang juga sebagai penentu desain dari waduk Jatiluhur, mencari tenaga yang sebesar-besarnya untuk membangkitkan turbin listrik. Listrik yang didapat memang cukup banyak, lalu bagaimana dengan air untuk pemanfaatan irigasi sawah ? Maka dibuat lagi bendung di daerah Curug. Untuk mengairi ke daerah timur terpaksa air dinaikkan dengan menggunakan pompa listrik. Namun untuk yang ke Barat, Prof.Ir. Sedyatmo telah merancang pompa yang juga menggunakan tenaga air, yang kemudian dikenal dengan nama “Pompa Sedyatmo” untuk menaikkan air ini ke saluran Tarum Barat, sepanjang 90 Km termasuk untuk air baku kota Jakarta dan sekitarnya. Integrasi. Luas daerah aliran Waduk Jatiluhur mencakup 4.500 km2. Dalam segi jaringan irigasi, tentu sangat spektakuler, membentang dari daerah Bandung sampai pantai utara pulau Jawa. 
 
Di tepi Jatiluhur
Selain berfungsi sebagai PLTA, dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur memiliki banyak fasilitas rekreasi seperti hotel dan bungalow, bar dan restoran, lapangan tenis, bilyar, perkemahan, kolam renang, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air dan fasilitas lainnya. Di dalam waduk ini juga terdapat budidaya ikan keramba jaring apung, yang memungkinkan kita untuk memancing di waktu siang maupun malam. Selain itu, dikawasan ini terdapat Stasiun Satelit Bumi yang dikelola PT. Indosat sebagai alat komunikasi internasional. Pokoknya lengkap, termasuk pusat Training Center atlit nasional dayung dan dragon boat Indonesia. Kok tau?? Nah, para gerombolan yang kami pikir tentara tadi adalah para atlit ini, dengan badan yang super tegap (karena kebanyakan dayung) mereka melakukan pemusaatan latihan di sini. Dan hasilnya apa? 3 medali emas di Asian Games mereka raih...tepuk tangaaaan...^^

Awalnya cukup tenang disini, kami bisa duduk-duduk santai di tepi dermaga sambil melihat riak-riak air ke tepian, sampai akhirnya serombongan orang yang ternyata atlit nasional membawa perlengkapan mereka masing-masing. Ketenangan kami terusik, dan karena sudah waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 maka saatnya kami berpisah...mungkin kalau kesininya aga siangan kondisinya akan lebih ramai, tapi beruntung kami kesana sorean, jadi sangat tepat untuk berkontemplasi...^^

Situ Wanayasa


Dari arah taman tersebut kami ke kanan luruuus lagi, ketemu dengan pertigaan, kami belok kanan untuk ketemu dengan perempatan awal kami masuk ke komplek Pendopo yang ada pos SATPOL PP nya. Dari perempatan tersebut kami belok kiri ke arah Situ Buleud dan kembali mengitari situ tersebut dari arah kiri. Jadi ketemu situ kami ke kiri mengitari situ sampai ketemu dengan jalan yang berada di samping kiri gedung BAKORWIL (tweweweng lieur eh...^^). Nah, akan kami ceritakan sebuah rahasia, rahasia tentang percakapan dengan ade-ade SMP tadi, hihihihi^^.

Kata ade-ade yang kami temui pada bagian Situ Buleud tadi, kalau mau ke Wanayasa harus ke Pasar Rebo dulu. Dari Buleud (arah datangnya angkot 04 tadi) jalan belok kanan luruuuus aja, sekitar 500 m an, ada pertigaan belok kiri udah masuk wilayah Pasar Rebo. Dari situ ada dua opsi kalau mau ke Wanayasa. Pertama, naik ELF (yang gede tea), dan yang kedua naik angkot jurusan Wanayasa (angkotnya warnanya kuning). Tarifnya, kalau ELF, Rp. 6.000, sedangkan kalau angkot, sama juga (hahaha, trus apa bedanya??). Pertanyaan bagus, saking bagusnya, kami tidak tau jawabannya...^^. Jawabannya kami awali dengan mungkin, karena kami simpulkan dari pengalaman yang kami alami sendiri. Pertama, ELF ga akan mau berangkat kalau tidak full, kami terjebak di dalam ELF hampir setengah jam, dengan keringat bercucuran, sedangkan angkot lempeng aja tanpa ada beban n ga terlalu lama ngetemnya. Kedua, segitu ELF penuh, dia akan meluncur dengan full speed, sedangkan angkot penuh ga penuh tetap slow aja jalannya, biar lambat asal slamat kayaknya motonya...Ketiga, mereka beda jalur tapi bertujuan sama, karena pas baliknya kami naik angkot, tidak berpapasan sama sekali dengan ELF, dan jalurnya sepertinya berbeda dengan yang kami lalui waktu berangkat..mungkin itu bedanya...^^
 
Situ Wanayasa
Waktu berangkat kami menjatuhkan pilihan ke ELF, karena kami pikir lebih cepat dari angkot. Kami masuk ELF sekira pukul 12.30, dan ELF bersedia berangkat sekira pukul 1 lebih dikit, dan wuz-wuz-wuz, dengan  kecepatan penuh, kurang lebih 45 menit kami sampai di Wanayasa. Itupun pakai feeling, karena pihak ELF tidak meneriakkan bahwa ini adalah Situ Wanayasa, dan kamipun tidak bertanya apakah ini Situ Wanayasa. Akhirnya, dengan sedikit pede, aga kedepanan dikit dari situ, kami bilang passwordnya agar kami bisa berhenti, “kiri bang”, dan ELF pun berhenti. Kami berjalan kembali sekitar 100m dari Situ, dan yang kami lihat adalah danau yang luas, bersih, dan banyak orang mancing. Antara iya dan tidak kami berjalan turun ke danau, dan bertemu dengan penjaga pintu masuk, dengan aga malu kami bertanya, “ini situ apa pak?”. Dengan mantab bapaknya bilang, Wanayasa. Terima kasih ya Allah, kami tiba ditempat yang tepat, hampir pukul 14.00.

Tiket masuknya Cuma Rp. 2.000, kalau sekedar keliling danau tidak bayar, tapi kalau masuk ke pulau di tengahnya, bayar Rp. 2.000. dari daratan ke pulau di tengahnya melewati sebuah jembatan bambu. Disamping pulau ditengah itu terlihat sedang tertambat beberapa sepeda air (buat maen sepeda di air yang bentuknya bebek-bebek an dan lain-lain, pas buat orang pacaran, berhubung kami tidak pacaran, maka kami tidak tertarik), dan rakit yang aga tenggelam. Kami tadi menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Purwakarta, kalau rata-rata 60 km/ jam, kurang lebih karena kami 45 menit, maka jaraknya adalah 45 km. teeeeeeeet, jawaban salah. Jarak Wanayasa dari Purwakarta sekitar 23 km, berhubung jalannya yang lenggak-lenggok, maka 23 km tersebut ditempuh dengan waktu paling minim 30 menit. Danau ini luasnya sekitar 7ha, luas memang, dengan air yang alami, banyak ikannya dan suhu yang sejuk, sekitar 17 – 20 derajat celcius (katanya situs wisatapurwakarta.indonesiatravel.biz). 
 
Pulau di tengah Situ
Pulau yang ditengah-tengahnya itu, konon telah direnovasi dengan penataan rumput, dipasang kursi-kursi bambu di pinggir danau, dan eits, ada makam ditengah-tengah pulau itu. Makam siapakah gerangan? Setelah kami datangi, ternyata itu adalah makam RA. Suriawinata. Masih ingat? Yak, beliau adalah yang memindahkan ibukota Karawang dari Wanayasa ke Purwakarta sekarang. Di pulau ini ditumbuhi pohon pinus yang menandakan, bahwa ini adalah dataran tinggi, karena pinus umumnya hidup di dataran tinggi. Dan betul. Wanayasa ini berada di sekitar 600 m diatas permukaan laut.

Disekitar danau nampak mulai dibangun saung-saung, tempat makan dan peristirahatan, dengan suasana yang cukup sunyi, tenang dengan melihat air dan merasakan angin semilir, kuranglah kiranya kalau Cuma sebentar disini. Di tengah persimpangan sebetulnya, sayang kalau suasana sunyi ini diganggu oleh bisingnya pembangunan dan kalau sudah jadi akan banyak orang ramai berdatangan kesini. Namun, disisi lain, sayang kiranya, kalau tempat seindah ini hanya dapat dinikmati begini saja, perlu dibangun fasilitas lain agar orang betah disini. Situ Wanayasa merupakan kawasan wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena secara geografis pariwisata, terletak di antara Tangkuban Parahu, Ciater dan danau Jatiluhur.
 
Memancing bersama
Pengembangan wisata yang mungkin dapat dilakukan, adalah rekreasi air berupa pemancingan, sepeda air, perahu dayung, restoran terapung dan sebagainya. Di lingkungan sekitarnya yang dapat dikembangkan, antara lain seperti home stay, guest house, rumah makan, taman rekerasi, usaha cinderamata, hiking, arena melukis, menggambar, horse riding, jogging, sarana out bound dan wisata pendidikan, seperti cara bertani manggis dan cara berkebun lainnya yang difokuskan kepada para pelajar atau mahasiswa. Bagaimana baiknyalah, semoga ketenangan Wanayasa tetap senantiasa terjaga. Berhubung ada satu lagi yang harus kami kejar sebelum hujan turun, maka, mau tidak mau kami harus meninggalkan Wanayasa. Sekedar informasi kawan, 3 km dari sini ada beberapa objek wisata lainnya, yaitu Curug Cipurut dan perkebunan teh (lain kali semoga sempat kesini) dan sekitar 8 km dari sini terdapat air panas Ciracas. Banyak sekali wisata alam Purwakarta ini, butuh banyak waktu untuk bisa dikejar semuanya.



Cuci muka bagi yang membutuhkan, sholat bagi yang menjalankan, minum bagi yang memerlukan, kami lakukan di tempat peristirahatan itu. Semua terbuat dari bambu. Sejuk, segar dan kami siap meneruskan perjalanan.